Minggu, 25 September 2011

sinopsis can't lose episode 2


Hyung Woo bertanya dengan curiga kenapa Eun Jae belum mendaftarkan pernikahan mereka, apakah ia punya alasan tertentu? Eun Jae merasa bersalah dan menghindari kontak mata dengan Hyung Woo dan menunduk. Hyung Woo terus menekannya dan akhirnya Eun Jae menjawab, “Aku lupa.”
Hyung Woo tidak percaya bagaimana ia bisa melupakannya. Eun Jae berusaha membela diri, ia orang yang sibuk, wajar saja kalau ia lupa. Ia membalasnya, kenapa Hyung Woo juga tidak mendaftarkannya? Hyung Woo bertanya apakah ia tidak ingat hari itu?
 

Mereka berdua mengingat kembali hari itu, ketika mereka selesai mengisi dokumen pernikahan  dengan para asisten mereka. Eun Jae mengusulkan agar mereka suit saja, yang kalah harus mendaftarkan dokumen itu. Ternyata yang kalah adalah Eun Jae, Hyung Woo memberikan dokumen itu dengan gembira.
Tapi, tiba-tiba kliennya datang. Ia berkata kalau ia sibuk dan berusaha memberikan dokumen itu pada Hyung Woo. Hyung Woo hanya berkata, “Peraturan adalah peraturan.” Dan menolak dokumen itu serta menyuruh Eun Jae untuk melakukannya.
Masalahnya, Eun Jae mengingat hal itu secara berbeda, setelah Hyung Woo berkata peraturan adalah peraturan, ia cemberut dan memberikan dokumen itu  pada Hyung Woo.  Hyung Woo mencemooh bahwa itu tidak pernah terjadi dan ia tidak menerima dokumen itu.
 

Mereka pun saling menantang siapa yang mempunyai ingatan yang paling benar dan mereka juga bertaruh. Hyung Woo bertaruh satu juta won, Eun Jae bertanya apakah ia bisa mencari uang sebanyak itu. Akhirnya mereka sepakat bertaruh 100 ribu won.
 

Mereka  turun ke bawah dan bertanya pada asisten mereka seperti saksi di pengadilan dan memperlakukan satu sama lain seperti musuh.
Salah satu asistennya Kang Woo Shik  membela Eun Jae dan berkata kalau ia ingat seperti yang disebutkan Eun Jae. Di luar, ia berkata kalau ia berkata seperti itu supaya mereka segera keluar dari ruangan itu lebih cepat. Ha….
 

Ia menempelkan kedua tangannya dengan penuh kemenangan. Hyung Woo berkata kalau kasus ini belum selesai. Ia berkata kalau saksinya tidak valid karena Eun Jae membawa Woo Shik dari firma yang lama. Kesetiaan bisa mempengaruhi kepercayaannya sebagai saksi.
 

Hyung Woo berkata, kalau mereka mencari di kantornya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang dapat mendukungnya. Mereka pun berpisah dan mencari dokumen itu di kantor masing-masing.
 

Hyung Woo mendapat ide, dengan senyum puas ia menghampiri Eun Jae untuk menemaninya mencari dokumen itu di kantornya. Ia menyuruh Eun Jae untuk mengambil buku tertentu, buku yang ia ingat dibaca Eun Jae pada hari itu.
 

Eun Jae tidak menganggap hal itu penting tapi ia tetap mengambil buku itu dan menemukan dokumen pernikahan mereka didalamnya.
Wajahnya langsung berubah dari mencemooh menjadi ketakutan. Ia pun mencoba berbicara dengan manis, karena ia yang salah.
 

Dengan tangan di dada Hyung Woo, ia berkata kalau legalitas itu tidaklah penting, karena itu tidak akan menghapus kehidupan pernikahan mereka. Hyung Woo tersenyum, ia setuju …. Dan kemudian diikuti dengan kata-kata yang sering digunakan Eun Jae, “Apakah itu yang kau pikirkan? Itu mungkin berfungsi ketika kita masih pacaran.”
Ia menggunakan semua kesempatan untuk memamerkan kemenangannya. Ia memastikan kalau Woo Shik didenda karena melakukan sumpah palsu. Ia bertanya apakah ada orang yang pernah melihat peristiwa seperti ini, pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka setelah ulangtahun pernikahan mereka yang pertama.
Eun Jae mengambil dokumen itu dari tangan Hyung Woo dan menggerutu kalau ia akan mendaftarkannya, karena ia yang kalah dalam taruhan.
 

Segera setelah ia masuk ke dalam mobilnya, ibu mertuanya menelpon dan ia  membelokkan arah mobilnya. Ia bergegas pulang ke rumah dan Ibu mertuanya menatapnya dari atas ke bawah penuh dengan ketidaksukaan karena ia datang dengan tangan kosong.
Ibu menyewa Eun Jae untuk mengurus gedung yang baru saja dibelinya, karena ia bermasalah dengan semua penghuninya. Kelihatannya ibu Eun Jae adalah salah satunya.
Ia menyeret Eun Jae ke sebuah spa sebagai hadiah ualng tahun pernikahannya yang akan diikuti oleh makan malam.
 

Ia menelpon Hyung Woo dengan panik, tapi Hyung Woo menjawabnya dengan kasar dan berkata kalau ia sedang sibuk. Eun Jae bertanya apakah ia marah padanya karena ia tidak mendaftarkan dokumen mereka seperti yang seharusnya dan Hyung Woo memotong perkataannya dengan kasar.
 

Hyung Woo punya alasan yang kuat untuk melakukannya. Ia sedang  bekerja dengan seorang klien yang sekarang ini sedang marah-marah tentang perceraiannya dan membiarkan istrinya melarikan perusahaan mereka.
Hyung Woo membela istrinya dan ketika pria itu berdiri dan meminta Eun Jae yang menangani kasusnya, Hyung Woo berteriak,”Nama istri siapa yang kau teriakkan? Aku bahkan tidak menyebut namanya, karena itu sangat berharga!”
Hyung Woo membawa Woo Shik untuk menangani kasus kakek dan ketika ia sedang menunggu untuk menanyai seorang dokter bedah, ia mendapat sms dari temannya (namanya Soju) bahwa rencananya untuk jam 8 malam nanti.
 

Sedangkan Eun Jae mencoba bersabar atas kelakuan mertuanya, tentang kenapa ia harus bertemu dengan ibunya, bagaimana wajahnya dicakar dan bagaimana orang-orang yang lain bermain golf dengan menantunya.
Saat mertuanya merengek, Eun Jae sedang dipijat. Ketika mereka di ruang ganti, mertuanya bertanya, “Kapan kau akan punya anak?”
 

Eun Jae merasa terganggu dengan pertanyaan ibu mertuanya dan tiba-tiba ia membayangkan ada tanduk yang tumbuh di kepala ibu mertuanya serta sayap hitam yang membentang di belakang punggungnya. Mertuanya mulai mengeluarkan kata-kata yang menyinggung tentang umurnya, penampilannya, kebiasaannya yang gila kerja, tinggi badannya yang tidak berguna.
Hyung Woo menunggu dokter bedah yang merawat nenek seteklah ia mengalami kecelakaan dan memintanya untuk membantu untuk memberikan pernyataan tentang kondisi nenek supaya orang lain bisa mengerti.
Dokter itu tidak berminat sampai Hyung Woo mengilustrasikan maksudnya dengan mengatakan jargon hukum yang membingungkan padanya dan bertanya apa yang ia rasakan jika takdirnya tergantung pada kata yang tidak dimengertinya. Hyung Woo memintanya untuk membantu kakek dan dokter itu setuju.
 

Hyung Woo pulang ke rumah dan kaget ketika mendapati rumahnya telah dihias Soju dengan hiasan serba pink. Eun Jae juga pulang ke rumah dan kaget melihat semua itu. Ia tidak menghargai semua usaha Hyung Woo yang berusaha bersikap romantis.
Eun Jae cemberut, moodnya masih buruk karena bertemu dengan ibu mertuanya dan bertanya-tanya berapa banyak uang yang dihabiskan Hyung Woo untuk menyiapkan semua ini. Ia berkata kalau ia lebih  suka dalam bentuk uang saja. Mereka sibuk berdebat sampai tidak menyadari kalau lilin yang berbentuk hati itu rubuh seperti kartu domino yang membuat ruang tamu mereka terbakar.
 

Mereka ketakutan dan melakukan semua hal yang salah yang membuat apinya semakin menyebar. Mereka bahkan berhenti untuk berdebat saat api membesar sampai Hyung Woo akhirnya menemukan  alat pemadam kebakaran dan mematikan api.
 

Mereka duduk, masih trauma dengan kejadian itu. Muka mereka penuh dengan noda arang. Mereka pun kembali saling menyalahkan, Eun Jae yang marah duluan dan berkata ingin tidur di hotel yang mewah.
Hyung Woo keluar setelah Eun Jae pergi tapi ia hanya berputar-putar di sekeliling apartemen dan menemukan dirinya dikelilingi oleh suami-suami yang lain yang melakukan hal yang sama. Salah seorang ajusshi mendesah kalau ia ada disini karena gunting kukunya hilang dan bertanya kenapa Hyung Woo ada disini.
 “Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku.” Ajusshi itu gemetar ketakutan, “Itu yang hal yang menakutkan. Itu hal kedua yang menakutkan setelah ulangtahun istri.” Hyung Woo mendesah bahwa ualngtahun istrinya bulan depan. Ajusshi itu hanya berkata kalau ia berharap bisa memberikan kata-kata penghibur padanya.
 

Hyung Woo pergi kekantornya dan menemukan Eun Jae tidur di sofa dengan kaleng-kaleng bir kosong di sekitarnya. Ia tersenyum dan menyapu rambut dari wajahnya dengan lembut. Ia mendapat tamparan dari Eun Jae tapi kali ini Eun Jae benar-benar tidur.
Hyung Woo menyelimutinya dengan sebuah selimut kemudian tidur di kantornya. Pagi pun datang, mereka malu bertemu dengan bawahannya dan Eun Jae akhirnya mendengar kalau kemrin Hyung Woo membela kehormatannya.
 

Eun Jae pergi ke kantor Hyung Woo dengan sedikit rasa penyesalan. Ia berkata kalau ia juga bisa membela dirinya sendiri. Hyung Woo bertanya apakah itu ucapan terimakasihnya? Eun Jae tidak mau mengakuinya.
Hyung Woo bertanya apakah ia sudah mendaftarkan pernikahan mereka dan Eun Jae sadar kalau ia lupa lagi. Ia berbohong kalau ia telah mengurusnya. Hyung Woo tertawa, “Tentu saja kau telah melakukannya. Jika kau lupa lagi, kau bukan manusia. Kau adalah burung.”
Mereka diganggu dengan kekacauan di luar. Go Ki dan Young Joo masuk ke dalam. Young Joo ingin bercerai sedangkan Go Ki berusaha menenangkannya. Young Joo mengumumkan kalau Eun Jae bersedia menjadi mewakilinya dalam perceraian ini yang membuat Hyung Woo dan Go Ki kaget.
Mereka mencoba menenangkan pasangan itu. Hyung Woo menjelaskan kalau Eun Jae tidak akan pernah mewakili perceraian temannya, sambil memandangnya dengan pandangan jijik. Young Joo memberitahu mereka kalau Go Ki telah berhenti bekerja selama bertahun-tahun untuk mengikuti ujian PNS, tapi selalu gagal.
 

Ia menambahkan ketika ia menjadi tulang punggung keluarga, Go Ki menggunakan uang secara diam-diam, karena ia baru saja mengirim 10 juta won pada orangtuanya. Yang dimasalahkannya bukan karena ia ingin membantu orangtuanya, tapi karena ia tidak mengkonsultasikan dulu padanya dan menyimpan uang itu secara rahasia.
Go Ki membela diri kalau ia tidak menabung secara rahasia, Hyung Woo yang telah meminjaminya uang.
Hyung Woo dan Eun Jae yang gantian bertengkar sedangkan Young Joo dan Go Ki segera pergi karena takut masalahnya membesar.
 

Mereka pindah ke atap untuk bertengkar seperti yang biasa mereka lakukan dan Eun Jae bertanya-tanya bagaimana ia bisa memberikan uang begitu banyak pada orang lain daripada pada istrinya sendiri. Eun Jae bahkan bertanya apakah nomor telponnya disimpan diantara 10 orang terpenting baginya.
Dengan bangga Hyung Woo menunjukkan telponnya dan nomor Eun Jae ada di nomor satu, sayangnya ia lupa kalau ia menyimpannya dengan nama “Sapi yang cantik. Eun Jae cemberut melihatnya. Hyung Woo menyimpannya dengan nama itu karena Eun Jae selalu mengatakan hal yang sama berulang-ulang (seperti moo,moo, moo). Hyung Woo segera mengingatkannya kalau ia menyimpannya dengan tambahan kata cantik.
Eun Jae membela seorang klien di pengadilan dalam kasus yang berhubungan dengan pembagian aset diantara sepasang suami istri yang tidak mendaftarkan pernikahan mereka dan membuatnya teringat untuk mendaftarkan pernikahannya sendiri.
 

Hyung Woo menelpon Eun Jae untuk pergi ke restoran Young Joo dimana ia sedang duduk bersama Go Kid an staffnya Woo Shik yang sedang mengeluh karena pekerjaannya semakin berat. Hyung Woo memberikan solusi untuk masalahnya, mereka akan mempekerjakan Go Ki yang juga lulusan fakultas hukum.
Eun Jae sadar kalau ia masuk ke dalam perangkap. Semua orang melihatnya saat Hyung Woo berkata kalau Eun Jae harus memberikan persetujuannya terlebih dahulu. Tentu saja ia tidak bisa menolak di hadapan Young Joo.
Ia pun menyetujuinya dan Young Joo bertepuk tangan lega.
 

Ketika ia hanya berdua dengan Hyung Woo, ia memarahinya karena memaksanya menyetujui rencananya. Pada dasarnya Hyung Woo menambah bebannya dengan menambah satu orang lagi yang harus diberi makan, ketika ia tidak melakukan apapun untuk menambah pemasukkan. Hyung Woo meminta maaf, ia tahu semua yang dikatakan Eun Jae benar. Eun Jae berkata kalau mulai saat ini ia tidak ingin berbicara dengan Hyung Woo lagi.
 

Ia berbicara pada diari perekam suaranya, berkata kalau ini pertama kalinya Eun Jae memutus komunikasi mereka dan mengaku kalau ia salah, “Aku dengan tulus meminta maaf. Tapi ia tidak melihat ketulusanku.”
 

Ia diganggu oleh sebuah telpon yang tidak diangkatnya. Dan yang bisa kita lihat adalah bayangan seorang wanita yang menelponnya.
Eun Jae tiba dirumah dan melihat kekacauan di rumah mereka.  Ia sedih mengingat keromantisan yang ditunjukkan oleh Hyung Woo, merasa seperti kelopak mawar mengejeknya yang berada dalam kesedihan.
 

Hyung Woo pulang ke rumah dan tahu kalau ia dalam masalah. Ia mencoba membersihkan sisa-sisa bencana dari dekorasi perayaan ulang tahun pernikahan mereka, sedangkan Eun Jae duduk sambil menggerutu. Hyung Woo mengambil balon sambil berjingkat disekitar Eun Jae, berusaha agar tidak membuatnya marah lagi.
 

Ia melepaskan balon-balon itu dan berusaha  membuka percakapan dengan Eun Jae dengan bertanya berapa skor pertandingan di TV. Eun Jae berbicara dengan TV, mngeluh bahwa moodnya sedang buruk, tapi mereka tetap bermain baseball, seperti penghinaan baginya.
Hyung Woo tidur di sofa yang terbakar dan terbangun dengan pemandangan yang langka, Eun Jae sedang membuat sarapan. Walaupun hanya terdiri dari sayuran dan telur goring. Hyung Woo berkata kalau sangat indah melihatnya mencoba.
Dengan gusar ia pergi ke kamar tidur untuk berganti pakaian, kemudian mengeluh kalau ia tidak punya baju untuk dipakainya, bertanya-tanya kenapa ia hidup seperti ini sedangkan suami-suami yang lain menghujani istri mereka dengan barang yang bermerk.
 

Di tempat lain, pertarungan antara besan dimulai. Ibu Eun Jae tahu kalau restorannya punya induk semang baru, yang sedang berusaha mengusir semua orang keluar untuk membangun restoran franchise ditempat itu.
Ia tahu kalau wanita kaya yang bertengkar dengannya kemarin adalah orangnya.Keduanya bertengkar lagi dan berkata kalau mereka akan menyelesaikannya secara hukum,” Putraku adalah pengacara!” “Putriku juga seorang pengacara!”
Hyung Woo secara formal memperkenalkan Go Ki pada staff yang lain, dan Eun Jae memelototinya dengan diam. Go Ki bisa merasakan ketegangan diantara mereka berdua, bertanya-tanya apakah keduanya bertengkar karena dirinhya. Hyung Woo beralasan kalau mereka menjaga formalitas selama di kantor.
Mereka pergi ke sebuah kota dipinggir laut untuk mencari saksi lain yang akan memberikan testimoninya untuk kasus kakek. Hyung Woo meng sms Eun Jae bahwa ia tidak akan pulang malam itu.
 

Eun Jae minum-minum di bar langganannya. Ia bercerita pada Tae Young tentang suaminya, yang selalu merawat ayahnya. Ia bergabung di sebuah firma hukum besar karena bujukan ibunya. Tapi ia tidak bisa menjual jiwanya, hal itu yang membuat hubungannya dengan ibu tegang.
Tae Young tidak bisa memberikan nasehat yang baik. Eun Jae berkata kalau Tae Young memberikan reaksi yang tepat seperti yang dibutuhkannya. Ia mengeluh kalau orang lain dalam hidupnya tidak pernah memberikan saran yang keras ketika berpihak padanya. Itulah yang membuat Woo Shik gagal tiap hari, karena ia tidak bisa membaca moodnya dan menawarkan reaksi yang tepat ketika ia mengeluh tentang suaminya.
Tae young mengingatkannya kalau ia dulu percaya pada Hyung Woo dan menyarankannya untuk menghadapinya dan mengungkapkan perasaannya dan membuat dialog terbuka dengannya.
Jadi ketika Hyung Woo pulang, Eun Jae menyuruhnya untuk membooking tiket ke Jepang untuk akhir minggu ini, sehingga mereka bisa kembali ke tempat mereka berbulan madu. Eun Jae bermaksud untuk menapak tilas langkah mereka untuk mencari bagian mana yang salah. Ia berpikir kalau Hyung Woo tidak bisa melarikan diri kalau mereka berada di Jepang.
 

Hyung Woo sangat gembira, mengingat bulan madu mereka. Dalam  kegembiraannya ia salah meng sms detilnya pada ibunya bukan pada Eun Jae.
 

Sedangkan Ibu Eun Jae panik atas pertarungan hukumnya yang akan datang dan menemukan dirinya ada di depan kantor Eun Jae. Ia tidak kuasa untuk masuk dan berbalik. Tapi Hyung Woo melihatnya dan menyarankannya untuk masuk kedalam.
Ibu tersenyum pada kebaikan Hyung Woo dan berkata kalau pernikahan Eun Jae pasti baik-baik saja. Hyung Woo terkejut dan bertanya apakah ia mengenal Eun Jae dan ibu berkata, “Aku ibu mertuamu.”
Hyung Woo memberi saran tentang masalah pengusiran itu dan bertanya apa yang membuat hubungannya dengan Eun Jae memburuk.
Ibu berkata kalau Eun Jae berhak untuk marah dan ada beberapa luka yang sangat menyakitimu sehinggak kau tidak ingin mengatakannya. Hyung Woo setuju.
 

Hubungan Eun Jae dan Hyung Woo masih tegang, tapi ketegangan itu berkurang ketika mereka setuju untuk berlibur ke Jepang untuk membicarakan masalah mereka sampai selesai. Mereka pun pergi ke bandara dengan penuh semangat, tapi kemudian terdengar suara ibu Hyung Woo yang memanggil mereka…
Ia mendekati mereka dengan penuh semangat dan siap untuk ikut berlibur. Hyung Woo sadar kesalahan besarnya. Semangat ibu langsung hilang, sadar bahwa itu hal yang terlalu bagus bila benar-benar terjadi dan Eun Jae  menenangkannya.
Pada saat yang sama, Ibu Eun Jae menelpon Hyung Woo untuk menanyakan saran hukum. Ia memintanya untuk datang saat ini juga karena ia berhasil mengumpulkan semua pemilik toko. Hyung Woo tidak menemukan cara untuk berkata tidak.
 

Hyung Woo memberitahu Eun Jae dan ibunya untuk pergi duluan tanpanya. Ia akan menyusul malam ini setelah mengurus beberapa pekerjaan. Eun Jae bertanya pekerjaan apa, tapi Hyung Woo tidak bisa memberitahunya (ibu Eun Jae menyuruhnya untuk merahasiakan masalah ini) dan segera pergi.
 

Eun Jae marah dan berteriak padanya, “Jika kau tetap pergi, Aku tidak akan hidup denganmu!”
Hyung Woo hanya melambai sambil berlari, mengabaikan perkataan  Eun Jae.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar