Sabtu, 24 September 2011

Sinopsis Protect The Boss episode 5


Kedatangan Eun Seol yang tiba-tiba ke dalam ruang rapat mengagetkan semua peserta rapat termasuk Moo Won. Apalagi saat wajah Ji Heon muncul di layar proyektor, menyapa mereka dan meminta maaf karena keterlambatannya.

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?


Ide ini timbul dari kepala cepol Eun Seol 7 jam yang lalu saat ia sedang menyikat gigi. Pagi itu ayahnya meneleponnya dengan video call sambil marah-marah dan bertanya mengapa Eun Seol berada di halaman depan koran? Eun Seol menjelaskan kalau semua itu hanya kesalahpahaman dan akan menceritakan hal yang sebenarnya jika sel-sel di otaknya tak bekerja dan menemukan ide brilian untuk masalah Ji Heon. Ia buru-buru pamit pada ayahnya dan segera pergi.


Tanpa tedeng aling-aling, Eun Seol menyerbu masuk ke kamar Ji Heon dan kesal melihat bossnya masih tertidur lelap. Bagaiamana mungkin Ji Heon bisa tidur sementara ia tak dapat tidur semalaman karena pusing memikirkan jalan keluar?


Ia membangunkan Ji Heon dengan menarik selimutnya dan terkejut. Celana pendek pemberiannya dipakai! Ji Heon langsung terbangun karena malu. Eun Seol mengabaikan rasa malu Ji Heon karena ia sudah pernah melihatnya sebelumnya. Tak mempedulikan Ji Heon yang berteriak padanya, ia menarik Ji Heon untuk keluar kamar.


Ji Heon akhirnya keluar rumah dengan pakaian kerja yang masih belum rapi dan melihat Myung Ran dan sekretaris lamanya telah menunggunya di dalam mobil. Sekretaris Kim dan Myung Ran menyapanya dengan riang. Belum sempat Ji Heon memberi sapaan khasnya pada Sekretaris Kim, Eun Seol menyuruhnya masuk ke dalam mobil karena ia akhirnya menemukan jawaban untuk masalahnya.


Jawaban itu adalah ia akan memberikan presentasinya dari kantor lain (yang sepi tanpa banyak orang) melalui video call. Ji Heon  mencoba memberikan presentasinya dan puas pada hasilnya. Begitu pula Sekretaris Kim dan Eun Seol. Myung Ran? Ia tertidur dan saat terbangun menyuruhnya untuk berbicara dengan penuh kepercayaan diri.

LOL. Eun Seol menggebrak meja dan mengisyaratkan Myung Ran untuk menutup mulutnya. Eun Seol memuji Ji Heon dan mengobarkan semangatnya dengan mengatakan kalau presentasi JI Heon seperti Steve Jobs. Cha Steve Jobs.

Tentu saja Eun Seol belum pernah mendengar presentasi Steve Jobs, tapi kata-kata Eun Seol memang membangkitkan semangat Ji Heon.

Hasilnya?


Semua peserta rapat terkejut dengan presentasi Ji Heon, baik cara mengutarakan maupun materi presentasinya. Ide Ji Heon sangat baik sekali karena ia menempatkan pesaing dari Taman bermain mereka bukanlah pesaing konvensional, yaitu Taman bermain yang lain. Tapi pesaing utama mereka sebenarnya adalah smart phone, gadget untuk nge-game, internet, dan dunia maya. Jadi Ji Heon menawarkan ide untuk menarik para netizen kembali ke dunia nyata dan bermain di taman hiburan.


Presdir Cha tak dapat menyembunyikan kegembiraannya pada sosok Ji Heon yang percaya diri memaparkan presentasinya. Apalagi saat selesai rapat para stakeholders memuji Ji Heon. Jadi saat kakak iparnya lewat, ia tak tahan untuk tak menyombongkan Ji Heonnya hari ini. Ibu Moo Won tentu saja kesal.


Kebetulan ia tersenggol oleh salah satu peserta rapat, dan ia menggunakan kesempatan ini untuk sekuat tenaga menghunjamkan hak tingginya ke kaki Presdir Cha.


Presdir Cha menjerit kesakitan dan bertanya mengapa kakak iparnya begitu kekanak-kanakkan seperti ini? Ibu Moo Won berkata kalau ia memang seperti ini jadi ayah Ji Heon jangan membuat masalah dengannya lagi.


LOL. Lupakan omongan saya saat mengatakan kalau generasi kedua Cha tak bertengkar seperti anak-anak mereka. Lebih parah lagi malah..


Ibu Moo Won melampiaskan kekesalannya pada Moo Won. Namun Moo Won yang seakan tak peduli akan kemarahan ibunya yang sangat malu akan keberhasilan Ji Heon hari ini. Ia hanya meneruskan pekerjaannya.


Sementara itu Eun Seol berlari dengan riang, tak dapat menyembunyikan kegembiraan akan sukses yang diraihnya. Ia menemui Ji Heon yang baru saja keluar dari ruang rapat bersama Sekretaris Kim dan Myung Ran. Ia memeluk Myung Ran dan Sekretaris Kim, berterimakasih atas kerja keras mereka.


Dan saat ia memeluk Ji Heon (yang memang sudah bersiap-siap untuk dipeluk, LOL), ia tak dapat memikirkan kembali apa yang terjadi kemarin malam. Begitu juga dengan Ji Heon. 


Mereka langsung melepaskan pelukan dan Eun Seol dengan canggung meminta Ji Heon untuk segera ke kantor karena akan ada jamuan. Ji Heon menolaknya karena tak suka dengan acara seperti itu. Tapi Eun Seol memintanya datang karena kalau tidak Presdir Cha akan memarahinya. Mendengar hal itu, Ji Heon langsung menyanggupinya.


Hal ini tak lepas dari pengamatan Sekretaris Kim yang melihat perubahan Ji Heon, yang dulu memilih membiarkan dirinya dimarahi Presdir Cha daripada hadir di perjamuan perusahaan.

Hehe.. kalau Ji Heon naksir dirinya mungkin hal itu tak akan terjadi. Tapi tentu saja acara naksir menaksir itu juga tak akan mungkin terjadi, kan?


Ji Heon menanyai Eun Seol apakah ia akan datang ke acara itu? Eun Seol tak dapat datang karena semua sekretaris seniornya akan datang ke acara tersebut, maka ia sebagai junior-lah yang harus membereskan ruang meeting. Ji Heon menyuruhnya agar Eun Seol langsung pulang ke rumah setelah membereskan semuanya.

Myung Ran yang menjawab perintah Ji Heon. Memang siapa dia bisa menentukan kemana dan apa yang harus dilakukan oleh Eun Seol? Ia hampir memukul Ji Heon kalau saja Ji Heon tak berkelit menghindarinya. 


Namun moodnya sedang bagus dan hanya mendecakkan lidahnya pada Myung Ran.

Eun Seol membereskan ruang meeting dan ia tak dapat menyembunyikan kegembiraannya melihat layar yang masih belum dimatikan dan teringat pada Ji Heon yang memberikan presentasinya dengan penuh kepercayaan diri.


Terlepas dari ketidakpedulian Moo Won akan kemarahan ibunya, ia sebenarnya sangat kecewa dengan hasil presentasi tadi. Dengan mood yang jelek, ia keluar dari ruangannya namun terhenti karena ia mendengar nyanyian nge-rap dari Eun Seol. Ia tak dapat menyembunyikan tawanya melihat gaya Eun Seol yang hot banget menyanyikan lagu tentang dirinya sebagai sekretaris yang paling oke.


Setelah sekian lama, akhirnya Eun Seol menyadari kalau ada penonton yang mengamati penampilannya. Ia kaget melihat Moo Won, tanpa sadar tangannya yang penuh sabun gemetar memegang piring. Dengan masih ada senyum di wajahnya, Moo Won meminta maaf karena mengganggu aksi Eun Seol.


Eun Seol yang gemetar, meletakkan piring di bak cuci agar tak pecah. Namun karena groginya, ia menggenggam piring itu terlalu erat dan malah mematahkan piring itu.


Bwahaha… 


Moo Won bertanya apakah Eun Seol sudah makan? Jika belum, ia mengajak Eun Seol untuk makan. Namun jika sudah, ia tetap meminta Eun Seol untuk makan lagi bersamanya. Eun Seol pun mengiyakannya.


Namun saat di restoran, Moo Won seperti tak ada semangat untuk makan. Ia juga tak memperhatikan Eun Seol yang bersikap jaim dengan sebelumnya mengambil sesuap besar spaghetti kemudian menyingkirkan sebagian besar spaghetti dan hanya menyisakan sedikit untuk dimakannya. Perubahan sikap Moo Won itu tak lepas dari pengamatannya. Apa ada masalah?


Moo Won bercerita kalau ia baru saja dimarahi oleh seseorang. Jiwa preman Eun Seol pun muncul dan mengatakan siapa orang yang berani memarahi Moo Won? Ia akan membalasnya. Namun jiwa itu ciut saat tahu orang itu adalah ibu Moo Won. Moo Won tertawa melihat Eun Seol yang salah tingkah, dan memilih untuk curhat pada Eun Seol.

Selama ini ia mencoba menjadi anak baik. Dia sudah melakukan yang terbaik darinya. Namun sekarang ia tak tahu bagaimana mempertahankannnya. Eun Seol memberi saran dengan memberikan analogi tentang dua orang anak. Yang satu selalu pulang tepat waktu. Suatu ketika saat ia pulang jam 10 malam, anak itu menjadi anak nakal. Sementara anak lain selalu pulang tengah malam. Dan suatu ketika ia pulang jam 10 malam, ia akan disambut dengan penuh kasih sayang.


Moo Won mengerti analogi Eun Seol. Ia yang selalu sempurna, saat melakukan sedikit kesalahan saja ia akan dimarahi sedangkan Ji Heon hanya perlu melakukan sedikit kesuksesan agar ia mendapat pujian. Eun Seol setuju walaupun ia tak menyarankan untuk meniru Ji Heon.

Moo Won setuju, tapi ia juga ingin sekali-kali melakukannya. Ia beranjak pergi dengan antusias. Namun ia berhenti di tengah jalan membuat Eun Seol menubruknya.


Apa yang harus dilakukannya? Sejujurnya Eun Seol juga tak tahu, karena ia sudah lama tak pernah melakukannya.


Jadi Eun Seol membawa Moo Won ke jalanan umum. Namun Moo Won langsung ciut dan berbalik menyembunyikan diri, karena bagaimanapun juga ia sangat dikenal luas di lingkungan bisnis. Dia memiliki reputasi yang harus dijaga. Eun Seol kemudian membawanya ke tempat bermain (seperti Time Zone), namun ia juga tetap menolak bahkan menutupi wajahnya. Dengan alasan yang sama, bahkan ia menambahkan kalau di Twitter orang menjulukinya dengan Pangeran dunia bisnis.

Bwahaha.. kalo nggak narsis gak eksis, ya Moo Won?


Eun Seol langsung teringat dengan perilaku Ji Heon yang mirip dengan Moo Won sekarang ini. Ia tak dapat menyembunyikan kegeliannya pada dua sepupu yang sangat berbeda tapi ternyata memiliki persamaan juga. Sama-sama tak nyaman berada di tempat umum.


Akhirnya Eun Seol membawanya ke kios kacamata. Dan berbagai kacamatapun mereka coba. Dari yang lucu sampai paling aneh pun ada. Dengan menggunakan samaran kacamata, mereka menikmati kehidupan malam  Seoul. Dari menonton musik jalanan, sampai minum bir di tangga sebuah toko. Tak mereka sadari ada seseorang yang mengambil gambar mereka.


Yang minum-minum ternyata bukan hanya Eun Seol dan Moo Won, tapi juga ayah Ji Heon. Ji Heon membawa pulang ayahnya yang sudah mabuk, dan bersama nenek ia membawa ayahnya untuk berbaring di kamar.


Ayah mabuk karena tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dan ayah Ji Heon kalau mabuk, mabuknya lucu-lucu ngeselin. Ia mengaku belum mabuk pada nenek dan menguji cobanya dengan menyemburkan nafasnya pada nenek (yang naga banget!). Ia juga sudah tak peduli dengan urusan Eun Seol dan Sekretaris Kim (yang mengakibatkan ayah mendapat hukuman pelayanan masyarakat) dan menyerahkannya pada Ji Heon. Ji Heon menyanggupi namun mengingatkan ayah agar tak melupakannya saat ia sadar nanti.

“Jika aku seperti itu, maka aku akan menjadi anakmu!”

Bwahaha.. tak pernah ada penyesalan di kamus orang mabuk. Waktu sadar sih iya..


Ji Heon menerima dengan senang hati. Tinggal nenek yang mengeluh akan kelakuan anaknya yang seperti ini. Ia melepas jas dan kaos kaki ayah Ji Heon yang menurut seperti anak kecil. Ia tak dapat menyembunyikan kekagetannya akan lebam yang muncul di kaki ayah Ji Heon.


Ayah Ji Heon mengaku kalau semua itu adalah ulah kakak iparnya. Dan ia merasa kalau Moo Won sebenarnya menyukainya, hanya karena rasa sayang pada ibunyalah yang membuat ia bersikap seolah-olah membencinya. Bagaimanapun juga nenek tetap memikirkan Moo Won yang mungkin sekarang sedang menangis seperti anak kecil.


Perkiraan nenek sedikit benar, hanya saja Moo Won tidak menangis namun mabuk seperti ayah Ji Heon. Ji Heon yang sudah berada di tempat tidur, ragu-ragu untuk menelepon Eun Seol. Ia mencoba mengirim SMS tapi malah menghapusnya. 


Dan ia sangat senang sekali saat mendengar dering telepon dari Eun Seol. Nada suaranya terdengar tak peduli saat menjawab panggilannya. Tapi hal itu berubah 180 derajat saat mendengar Eun Seol sekarang bersama dengan Moo Won yang mabuk.

Sesampainya di lokasi, ia menjerit melihat Moo Won menepuk-nepuk kepala Eun Seol, dan Eun Seol pun tak menampiknya. 
 
Ji Heon:  “Kepala No Eun Seol adalah milikku!”
LOL, sejak kapan?


Moo Won menyambut kedatangan sepupunya dan memintanya untuk kembali. Ji Heon kesal dan memukuli Moo Won. Lucunya, ia tak sanggup memukul benar-benar dan hanya memukuli udara di atas kepala Moo Won dan kemudian menepuk lututnya. Hihihi.. Pelampiasan kekesalan Ji Heon lucu sekali.


Ji Heon malah menyalahkan Eun Seol yang tak menuruti perintahnya untuk langsung pulang ke rumah. Apa Eun Seol berniat menggoda Moo Won? Belum sempat Eun Seol menjelaskan yang sebenarnya, mereka dikejutkan oleh Moo Won yang muntah.


Akhirnya Ji Heon membawa Moo Won ke rumahnya, dan ibunya mengomeli Ji Heon yang disangkat telah meracuni anaknya hingga melakukan hal-hal yang tak baik. Ji Heon tak menanggapi omelan ibu Moo Won dan menganggap itu adalah cara berterima kasih ibu Moo Won. Ia meminta ibu Moo Won agar menyampaikan pesannya untuk tak mengincar barang milik orang lain. Ia tak akan membiarkannya terjadi, atau kalau tidak Moo Won akan mati di tangannya.

LOL, si dramaqueen kembali lagi. Dan sejak kapan Eun Seol menjadi barang bukan manusia?


Ibu Moo Won kaget dengan sikap Ji Heon. Tapi ia juga kaget dengan Moo Won-nya yang sekarang tertidur karena mabuk.


Si Dramaqueen sekarang melampiaskan kekesalannya pada Eun Seol yang masih menunggunya di dalam mobil? Kenapa masih belum pulang juga? Ji Heon mengatainya tak punya harga diri. Tapi Eun Seol tak mengambil hati ucapan Ji Heon. Ia berkata kalau ia sekarang sedang menghemat uang taksi dan ia ingin menyimpan uangnya untuk membeli sesuatu.


Ji Heon tak berkata-kata lagi, dan mengantarkan Eun Seol pulang. Tapi ia tak membiarkan Eun Seol pulang dengan tenang. Saat Eun Seol menaikkan kaca jendela, Ji heon menaikkannya kembali. Terjadilah adu kekuatan antara mereka berdua yang dimenangkan oleh Ji Heon yang akhirnya mengunci jendela itu hingga tetap terbuka.

Hasilnya? Rambut Eun Seol mencuat seperti burung bul-bul.


Ji Heon pura-pura merasa tak bersalah melihat Eun Seol yang cemberut. Ia malah menyuruh Eun Seol bersyukur karena ia masih mau mengantarkan Eun Seol yang tak pernah mendengarkan perintahnya dan mengkhianatinya. Eun Seol pun membalasnya dengan mengatakan kalau wajahnya seperti ini adalah ucapan terima kasihnya.


Eun Seol keluar dari mobil yang diikuti oleh Ji Heon. Ji Heon memburunya dengan berbagai pertanyaan: apakah Eun Seol berencana untuk ekat dengan Moo Won? Apa ia menyukai Moo Won?


Eun Seol yang ingin menutup mata menghadapi kenyataan yang mungkin terjadi tapi sekarang tak tahan lagi. Dengan lugas ia bertanya, apakah Ji Heon menyukainya? Ji Heon bertanya balik, apa ia sudah gila? Menyukai Eun Seol yang jelek, selalu berantakan, ia tak tahu bagaimana bisa menyukai Eun Seol. Jadi jawabannya adalah searang ia pasti sedang gila karena ia menyukai Eun Seol.


Dan Ji Heon meminta Eun Seul untuk menjawabnya sekarang. Jantung Eun Seol berdetak kencang, dan ia memegang dadanya seolah menenangkannya dan menjawab kalau ia meminta agar Ji Heon mengembalikan kewarasannya secepat mungkin.


Ji Heon tak terima dengan jawaban itu. Ia mengejar Eun Seol yang berlalu pergi dan bertanya bagaimana mungkin Eun Seol tega melukai perasaannya. Apakah ia tak punya hati?

“Jika aku tak dapat menerima hatimu, maka akan lebih baik jika aku menginjaknya.”
Ia memberikan alasannya. Pertama (Ji Heon: “Haah? Alasannya lebih dar satu?”) Ia tak mau orang berpikir kalau dirinya adalah sekretaris yang menggoda bossnya. Jika ia berhasilpun dalam pekerjaannya, orang akan tetap meremehkannya. Begitu juga dengan pandangan orang pada Ji Heon. Dan kedua, jika Presdir Cha mengetahui Ji Heon menyukai gadis seperti dirinya, walaupun sekarang Presdir Cha menyukainya, ia akan menguburnya dalam-dalam di Samudra Pasifik. Ji Heon bertanya, apakah Eun Seol takut pada ayahnya? Eun Seol menjawab tidak. Tapia da alasan yang ketiga, ia memang menyukai Ji Heon, tapi sukanya terbatas pada hubungan atasan dan bawahan. Tak lebih dari itu. 

Jadi jika semua alasan itu digabung, hubungan mereka sekarang ini adalah yang paling tepat. Ji Heon tak mengatakan apapun. Ia hanya menggigit-gigit kukunya. Eun Seol minta maaf karena ia lebih mengkhawatirkan kelangsungan pekerjaannya di kantor dan ia tak mau kehilangan kartu karyawannya. Ia meminta Ji Heon untuk melihat betapa egois dirinya dan menjadi kembali waras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar